Meninjau Ulang Desain Ruko

December 30, 2008

terbit di rubrik desain, Harian KOMPAS edisi Minggu, 30 November 2008

Rumah toko (ruko)-bersama dengan reklame-saat ini telah berkembang menjadi pembentuk wajah atau karakter kota. Di kota-kota Indonesia yang sedang berkembang bahkan hingga kota besar sekalipun, ia sangat mudah ditemukan di hampir seluruh bagian kota.

Ruko saat ini telah dipandang oleh masyarakat sebagai salah satu cara terbaik berinvestasi. Kondisi ini membuat pertumbuhannya tidak lagi menjadi monopoli pengembang atau pemilik modal besar namun juga dilakukan oleh perorangan. Ruko-sesuai dengan namanya-adalah bangunan yang diperuntukkan untuk dua fungsi sekaligus yaitu tempat tinggal (rumah) dan tempat usaha (toko). Dalam sejarah perkembangan kota, ruko merupakan perkembangan lebih lanjut dari bangunan chinatown di Asia.

Sebuah dilema muncul ketika melihat perkembangan yang terjadi saat ini. Ruko tidak dapat dipungkiri berperan sangat efektif dan juga sangat bermanfaat bagi kota. Paling tidak keberadaan ruko menjadikan kawasan tersebut menjadi hidup satu hari penuh (24 jam)-jauh berbeda dengan pola perkembangan kota saat ini yang memisahkan tempat tinggal dan tempat usaha, dan menyebabkan tempat usaha menjadi daerah mati di malam hari. Tipikal pemanfaatan ruko yang telah berkembang ratusan tahun tersebut hampir tidak pernah berubah, dengan fungsi perdagangan pada lantai-lantai bagian bawah dan fungsi hunian pada lantai atas. Namun fakta lapangan terhadap pembangunan ruko saat ini menjadi bertolak belakang. Ruko tidak lagi berhasil memainkan fungsinya secara efektif dengan banyaknya ruko yang terbengkalai kosong tidak terisi-baik kekosongan satu lot ruko maupun lantai ruko (biasanya pada lantai kedua dan seterusnya). Beberapa kecenderungan nampaknya menjadi penyebab, seperti lokasi yang kurang strategis untuk berusaha, lokasi yang tidak sesuai sebagai wilayah tempat tinggal, keberadaan ruko baru yang lebih ekonomis dan strategis, pola distribusi barang yang lebih efektif dan lebih lancar sehingga hanya membutuhkan ruang dagang yang kecil, serta beberapa kemungkinan lainnya. Di samping faktor-faktor eksternal tersebut, nampaknya desain bangunan ruko saat ini harus ditijau kembali sehingga pemanfaatan ruang ruko yang lebih efektif dan fleksibel bisa dicapai.

‘Multi storey retail’

Tanah yang kita tempati ini tidak selamanya akan selapang dan bisa diolah semudah saat ini. Pertambahan penduduk yang cepat berarti tuntutan akan tempat tinggal dan tempat usaha yang baru pun meningkat, dan dengan lahan yang tidak akan bertambah berarti akan semakin sulit untuk menyeimbangkan kebutuhan tersebut, seperti yang saat ini telah terjadi di kota-kota megapolitan dunia seperti Jepang. Dengan peraturan tata guna lahan yang ketat setiap pembangunan harus direncanakan dengan baik. Pembangunan vertikal adalah pilihan yang tepat dengan tetap menempatkan maksimalnya pemanfaat setiap lantai sebagai pertimbangan mendasar.

Bangunan ‘Multi storey retail’ mendominasi wilayah kota di Jepang. Bangunan ini secara manajemen tidak jauh berbeda dengan kantor sewa, namun secara arsitektural dengan dimensi umumnya yang lebih kurang 3.5m lebar dan 10-15m panjang, maka ia tidak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan ruko. Hal yang membedakannya adalah penggunaanya lebih maksimal, dimana hampir setiap lantai terisi-meskipun bangunan tersebut lebih dari 4 lantai. Fungsi sewanya pun sangat bervariasi mulai dari perdagangan, perkantoran hingga tempat tinggal.

Fleksibilitas secara vertikal menjadi kunci utama pada bangunan tersebut, dan satu elemen yang terlihat menjadi faktor utama keberhasilan ini adalah cara memaknai tangga (Kurniawan, 2007). Tangga adalah media sirkulasi vertikal, yang tentu saja berdasarkan pertimbangan keamanan dan keselamatan menjadi elemen tak tergantikan oleh lift dan escalator. Namun dari bagaimana arsitek, pemilik atau pengguna memperlakukannya di Jepang, keberadaan tangga jauh dari sekedar alasan evakuasi. Dari penelitian di dua wilayah di Osaka serta pengamatan di wilayah-wilayah lain di Jepang, ada dua hal yang bisa kita bandingkan antara tangga multi-storey retail dengan ruko, yaitu letak tangga dalam denah ruko, dan penempatan elemen identitas (signage, etalase produk, banner, poster, dan lainnya) (Kurniawan, 2007).

, serta foto detil informasi yang berada di wilayah ruang tangga lantai pertama [kanan] (sumber:Kurniawan,2007)”]Kurniawan,2007)Letak tangga di multi storey building di Jepang berbeda dengan pada ruko yang banyak kita temukan. Mereka meletakkan tangga di bagian depan bangunan (85-100% di wilayah penelitian) sedangkan ruko meletakkannya di bagian belakang dari bangunan. Secara historis memang jelas perletakkan tangga di bagian belakang tidak akan menganggu perdagangan yang hanya terpusat di lantai satu-apalagi jika melihat kepemilikan atau penggunaan satu unit ruko oleh satu pemilik, namun hal ini sekali lagi sangat berbeda dengan kondisi sosial, ekonomi maupun lokasi dimana ruko saat ini dibangun. Paling tidak ada dua tipe peletakan tangga yang mereka lakukan, namun keduanya memberikan hubungan langsung dengan jalur pedestrian serta fleksibilitas tinggi untuk berfungsi sebagai sirkulasi publik atau privat. Tipe pertama meletakkan tangga pada garis yang sejajar dengan ruang fungsional di samping nya, sedangkan tipe kedua muka bangunan ditarik mundur sehingga tangga berada pada ruang kosong yang menjadi transisi antara jalur pedestrian dan ruang fungsional tiap lantai.

Elemen identitas merupakan unsur kedua yang merubah makna tangga di bangunan-bangunan Jepang ini. Pada bangunan perdagangan seperti ini, elemen yang dapat membuat calon pengunjung merasa tertarik untuk mendekat serta masuk ke dalam bangunan (untuk fungsi toko) menjadi masalah yang krusial. Bangunan-bangunan retail di jepang kebanyakan berdiri tepat dipinggir jalur pedestrian beratap (arcade atau disebut sotengai), kondisi ini membuat fasade bangunan lantai dua dan seterusnya hanya terlihat dari jalan (pengguna kendaraan) dan jarak yang jauh, sehingga fasade (wajah bangunan) lantai pertama harus dapat dimaksimalkan fungsinya sebagai sumber informasi semua lantai. Elemen-elemen identitas tersebut dapat ditemukan di sekitar anak tangga pertama, di anak tangga, dinding sepanjang tangga ataupun atap tangga, serta dilanjutkan pada koridor tiap lantainya. Keberadaan elemen-elemen tersebut pada wilayah sirkulasi vertikal ini membuat wilayah ini dapat disebut juga sebagai “jalan”. Ashkenazi and Jacob (2000) pernah menjelaskan karakter yang sama antara wilayah tersebut dengan jalan/jalur pedestrian dengan mengatakan bahwa ‘koridor juga menjadi sebuah tempat dimana konsumen dimungkinkan untuk menemukan lebih banyak pilihan, berpikir bahkan membatalkan ketertarikan mereka untuk masuk ke toko’. Sebagai catatan, konsep “jalan” dalam bangunan sendiri telah menjadi tradisi dalam arsitektur Jepang tradisional (melalui ‘doma’ atau ‘toorinwa’ pada machiya) serta unsur penting dalam arsitektur kontemporer Jepang (seperti yang dilakukan Tadao Ando pada Gallery AKKA).

Tanpa mengurangi kebebasan arsitek untuk mendesain layout maupun fasade ruko, nampaknya ide peletakkan tangga di bagian depan ruko ini lebih dapat menjamin fleksibilitas penggunaan ruang secara vertikal, baik saat satu ruko tersebut digunakan oleh satu penyewa (pemilik) maupun digunakan oleh banyak penyewa (pemilik).

dan multi-storey retail building di Jepang [tengah dan kanan] (sumber: kurniawan,2007)”]kurniawan,2007)


Berwisata ke Tempat Pengolahan Sampah

October 8, 2008
terbit di KOMPAS, Minggu, 10 Agustus 2008

Tempat Pengolahan Sampah (TPS) adalah senjata terakhir pemerintah kota dalam mengelola sampah kotanya, namun hingga kini TPS-bagi masyarakat-bukan sesuatu yang layak dikenal.

 

Citra TPS sebagai tempat yang kotor dan-sangat mungkin-menjadi sumber penyakit menjadikan penolakan warga akan keberadaan TPS di lingkungannya menjadi dapat dimengerti. Keberadaan teknologi yang menjamin sistem pengolahan sampah yang bersih dan aman, tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu solusi yang harus bisa disosialisasikan kepada masyarakat. Namun di samping itu, tampilan fisik dan program ruang sebuah TPS juga dapat merubah citra buruknya di mata masyarakat. Untuk itu, beberapa kota dunia-seperti New York, Paris, dan Vienna-memanfaatkan kemampuan arsitektur untuk memperbaiki citra sekaligus merubah persepsi masyarakat terhadap tempat pengolahan limbah tersebut. Jepang-salah satu negara maju yang menerapkan aturan ketat mengenai sampah-juga memiliki Naka Waste Incineration Plant di Hiroshima dan Maishima Incineration Plant di Osaka yang dapat dijadikan contoh usaha tersebut.

 

Kedua fasilitas Incineration Plant ini selesai dibangun tahun 2004 (Hirsohima) dan 2001 (Osaka) untuk melengkapi fasilitas pengolahan sampah di masing-masing kota. Pada kedua fasilitas ini, tampilan fisik benar-benar berhasil “menipu” persepsi masyakarat tentang fungsi yang bekerja di dalamnya. Citra arsitektur kontemporer dengan bentuk asimetris-geometris, non-dekoratif, dan metal sebagai kulit bangunan Hiroshima Naka Waste Incineration Plant menimbulkan citra bangunan yang megah, bersih dan formal yang sangat bertolak belakang dengan citra fasilitas pengolahan limbah selama ini. Yoshio Taniguchi, arsitek yang sangat terkenal dengan desain-desain museumnya-termasuk Museum of Modern Art (MoMA) New York-bahkan dengan bangga menyebut Hiroshima Naka Waste Incineration Plant sebagai desain “museum of garbage“nya. Pendekatan yang sama, namun dengan eksekusi yang berbeda terlihat di Osaka City Environmental Management Bureau’s Maishima Incineration and Water Treatment Plants, yang didesain oleh arsitek konservasi lingkungan terkenal dari Austria, Meister Friedensreich Hundertwasser. Fasilitas pengolahan sampah ini tampil bagai lukisan di atas kanvas sehingga lebih layak diduga sebagai theme park. Bentuk bangunan yang lebih dinamis, material yang sangat bervariasi, permainan bentuk dan warna pada elemen-elemen bangunan (jendela, pintu, langit-langit) serta penghijuan berhasil menyampaikan pesan positif “the harmony between ecology, technology, and art” yang ingin disampaikan oleh arsitek melalui fasilitas ini. Namun, kedua fasilitas ini menjadi lebih istimewa karena memang dibangun untuk memberikan “pelayanan” kepada masyarakat dan menjadi bagian dari masyarakat.

 

Fungsi publik dalam fasilitas pengolahan limbah

Usaha awal yang dilakukan pemerintah kota Hiroshima dan Osaka adalah dengan memasukkan fungsi incineration plant ini kedalam visi dan misi serta rencana infrastruktur pembangunan kawasan atau kota. Hiroshima Naka Incineration Plant tidak lain adalah bagian dari rencana kota Hiroshima untuk membangun infrastruktur-infrakruktur sosial kota sebagai bagian dari proyek “Hiroshima 2045: the city of Peace and Creation” sekaligus memperkuat tema “The Water City Hiroshima.“  Begitu juga Osaka Maishima Incineration Plant-yang berada tepat di pintu masuk pulau buatan ini-tidak lain adalah bagian penting dari masterplan kawasan Maishima sebagai “Maishima Sports Island” dan juga pendukung kota Osaka untuk memenangkan persaingan sebagai tuan rumah Olympiade Musim Panas 2008-yang direncanakan berpusat di pulau Maishima tersebut-saat itu.

 

Bangunan Hiroshima Naka Incineration Plant yang terdiri dari 1 lantai basement, 7 lantai kantor pengelola dan 1 lantai penthouse hanya menempati 27 persen dari luas total tapak sebesar 50,200m2, sementara sisanya didedikasikan bagi masyarakat dan kota Hiroshima dalam wujud waterfront park. Bangunan tersebut dibagi menjadi tiga zona oleh Taniguchi, dimana salah satu zona yang berada di bagian tengah disulap sebagai zona publik. Zona publik yang terdiri dari atrium dan dikelilingi oleh koridor viewing gallery ini memungkinkan masyarakat dapat melihat isi dari “perut” incinerator ini, serta pemandangan laut, pelabuhan dan kota Hiroshima. Kemudian, Taniguchi menempatkan walkway ecorium sepanjang 400 kaki menembus atrium tersebut. Ecorium ini memiliki fungsi istimewa sebagai media informasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui urutan proses dan teknologi pengolahan yang dimiliki; menghubungkan pemukiman dengan waterfront park baru yang berada di sisi selatan bangunan; dan juga memainkan peran simbolik sebagai gerbang yang menghubungkan laut dengan kota Hiroshima. Terakhir, fungsi ekologis fasilitas bagi kota dan kawasan sekitarnya ini dipertegas dengan ditanaminya pepohonan disekeliling bangunan dan juga di dalam atrium.

 

Begitu pula bangunan 7 lantai Osaka Maishima Incineration Plant membuka dirinya untuk masyarakat yang ingin mengetahui fasilitas pengolahan sampah ini sekaligus belajar mengenai manajeman pengolahan sampah kota Osaka. Masyarakat hanya perlu mendaftarkan diri satu minggu sebelumnya untuk mengikuti tour tersebut. Bangunan juga dibagi ke dalam 3 zona, dan Hundertwasser meletakkan lobby dan visitor observation deck di bagian tengah bangunan untuk memberi kesempatan bagi pengunjung melihat sebagian proses pengolah sampah berteknologi tinggi tersebut dan membuktikan bahwa sebuah TPS bisa menjadi tempat yang sangat bersih, indah dan berkesan modern. Dari luar, mosaic keramik, dan bentuk organis serta warna-warni semua elemen bangunan menjadi strategi tersendiri untuk mempercantik kawasan ini. Proses pendataan setiap truk-truk sampah yang masuk dan keluar fasilitas ini juga bisa disaksikan masyarakat dari luar bangunan. Fasilitas ini tidak luput dari unsur penghijauan yang berada di taman-taman yang mengelilinginya, di atap bangunan serta pohon-pohon yang menjulur keluar dari jendela-jendela bangunan.

 

Apa yang dilakukan oleh kedua fasilitas ini adalah mendekatkan diri kepada masyarakat dan membawa masyarakat menjadi satu bagian dari fasilitas dan permasalahan sampah kota, sehingga dengan menginformasikan proses pengolahan sampah, produksi sampah setiap hari nya, diharapkan mampu membuat masyarakat lebih sadar dalam mengelolah sampah nya.


Understanding Prambanan Temple’s Uniqueness

July 17, 2008

Last Saturday, July 13th 2008, I accompanied our campus’ guest-Prof. Erich Lehner from TU Wien, Austria-for visiting Prambanan-Sewu temples Complex and Ratu Boko Complex. A wonderful experience I got, do you know why? Because he taught me about the temple architecture and compare it to others temple and culture around the world  I was not too concern with temple architecture, till he showed and told me about many uniqueness it has.

 

Let me told you some:

  • If you see the Prambanan temple plan, everybody will think that it is arranged symmetrical north-south and east-west. East is always the main orientation of temple architecture-he told that almost in all world traditional culture east direction influence its architecture symbolically. In Prambanan temple plan that I inserted here, I make an axis line and you will find out that the temple is put more to north side rather right in the east-west axis (luckily, the book’s picture already draw the axis line). I asked ‘why?’. He told me one possibility that made by researchers. In the main temple (Siwa or Lara Djonggrang temple), we will see two small building that flank the gate. In the left side (south side)-see the red rectangle in the picture, it was found the king body’s ash. And this small building lies right on the east west axis and rules other temple symmetrical composition.  
Kaelan, 1960

source: Kaelan, 1960

  • To be continued … (sorry I will continue it soon)

Wakamiya-chiku: Redesain kawasan pasca gempa

May 11, 2008
terbit di Harian KOMPAS 16 Maret 2008

12 tahun yang lalu, 17 Januari 1995 pukul 5.46 pagi, gempa 7,2 skala richter mengguncang wilayah Hanshin-Awaji. Great Hanshin-Awaji Earthquake menimbulkan kerusakan besar di wilayah tersebut, termasuk kota-kota seperti Kobe, Awaji, Ashiya dan Nishinomiya. Infrastruktur kota dan permukiman mengalami kerusakan dalam jumlah besar. Korban jiwa pun terhitung lebih kurang 6.434 jiwa.

 

Seperti yang masih dilakukan di Aceh-Nias dan Jogja-Jawa Tengah serta daerah-daerah dampak gempa lainnya, proses rekonstruksi pasca Great Hanshin Earthquake menjadi proses yang membutuhkan pemikiran, tenaga dan biaya yang sangat besar. Kebutuhan akan tempat tinggal yang bersifat permanen sebagai pengganti temporary shelter, dibutuhkan oleh setiap korban sesegera mungkin. Perencanaan rumah dan permukiman pasca gempa menuntut untuk tidak saja bisa mengembalikan fungsi tempat tinggal, tetapi juga mampu memberikan kualitas yang jauh lebih baik, termasuk rasa aman terhadap kemungkinan bencana di kemudian hari. Poin ini menjadi salah satu kebijakan dasar dalam proses rekonstruksi saat itu. Beberapa kawasan yang direkonstruksi pasca gempa tersebut memberikan kesempatan untuk mempelajari strategi-strategi perencanaan permukiman pasca gempa. Salah satu kawasan yang menarik adalah rekonstruksi kawasan Wakamiya-chiku di Hyogo Perfecture.

 

Strategi Community Planning

Wakamiya-chiku merupakan wilayah kecil-kira-kira sebesar Rukun Tetangga di Indonesia-di sebelah barat Wakamiya-cho, Ashiya-shi, Hyogo Perfecture. Sebelum gempa, wilayah seluas 2,3 ha ini dipenuhi oleh rumah, ruko, mokuchin (apartemen low-rise) dan bunkajutaku (perumahan dua lantai terbuat dari kayu dan dihuni lebih dari satu keluarga) yang lebih dari setengahnya memiliki luas kurang dari 100m2 dan terbuat dari kayu. Layaknya daerah urban lain di Jepang yang memiliki kepadatan tinggi, karakteristik jalan yang kecil (kurang dari 4 meter) sangat mudah dijumpai. Gempa yang berlangsung sekitar 20 detik itu menghancurkan sebagian besar bangunan yang ada di wilayah ini, terutama yang didominasi oleh kayu.

 

Usaha merekonstruksi kawasan yang padat tentu saja tidaklah mudah. Konflik antara pemilik tanah atau bangunan, penyewa mungkin dengan sangat mudah terjadi. Pada saat yang bersamaan pemerintah sedang memfokuskan diri pada skala yang lebih besar, untuk itu, strategi community planning digunakan oleh masyarakat wilayah ini sebagai wadah sekaligus jembatan antara masyarakat dan pemerintah dalam proses recovery ini.

 

Wakamiya-chiku Machizukuri Ryogikai adalah organisasi yang terdiri dibentuk oleh masyarakat dan terdiri dari berbagai unsur yang berhasil menjalankan Wakamiya-chiku shinsai fuko jukankyo seibijigyo (Proyek Pemulihan Infrastruktur Permukiman di Wilayah Wakamiya-chiku). Kelompok kerja ini mulai menjalankan rencana recovery sejak bulan September 1995. Melalui proses pemetaan, presentasi dan diskusi dengan masyarakat dan pemerintah, machizukuri merumuskan konsep rekonstruksi kawasan. Beberapa temuan lapangan seperti keberadaan lansia yang cukup banyak, sedikitnya taman dan ruang hijau, serta polusi suara dan getaran dari jalan negara yang ada di sebelah selatan menjadi pijakan bagi perencanaan wilayah Wakamiya-chiku yang baru.

 

Proses community planning ini terus berjalan hingga proses pembangunan permukiman selesai dilaksanakan pada tahun 2001. sebuah waktu yang tidak singkat untuk recovery sebuah wilayah pasca bencana, namun melihat hasil yang saat ini terlihat, nampak nya periode yang lama tersebut tidaklah sia-sia.    

 

Strategi Infill-Design

Meminjam istilah infill-design yang sering digunakan dalam konteks konservasi bangunan atau kawasan bersejarah mungkin bukan pilihan yang tepat, namun barangkali istilah ini cukup bisa menggambarkan metoda yang digunakan dalam mendesain ulang permukiman di Wakamiya-chiku ini. Paling tidak dalam pemahaman yang diberikan oleh Colin Rowe, Tom Schumacher dan Alan Colquhoun (dalam Brolin, 1980)-bahwa “bagaimana karakter sebuah kota diperkuat atau dihancurkan tergantung pada tipe-tipe bangunan yang ditambahkan dan hubungan mereka dengan konteksnya”-terminologi infill design memperlihatkan bentuk implementasi positifnya pada kawasan Wakamiya-chiku.  

 

Kebutuhan akan permukiman yang nyaman, aman dan lebih hidup-sebagai tuntutan baru-coba disatukan dengan kondisi Wakamiya-chiku pasca gempa. Di sinilah strategi infill design menjadi sangat tepat, dimana sebagai sebuah metoda, infill design memberikan lebih banyak kebebasan kepada pelaku (masyarakat, arsitek, urban planner, dan profesi lainnya) untuk menemukan hubungan antara bangunan atau kawasan “lama” dengan tuntutan baru. Ide-ide seperti “interaksi yang kreatif dengan masa lalu (Isar, 1986);” dan “konstruksi baru yang … tidak menghancurkan atau mengkaburkan makna kultural sebuah tempat (The Burra Charter, 1979) menjadi dasar mengembangkan kembali kawasan ini.

 

Bentuk implementasi strategi infill-design terlihat pada bentuk permukiman baru yang diberikan. Lingkungan dengan kualitas lebih baik menuntut dikuranginya tingkat kepadatan, peningkatan kualitas jalan dan penambahan beberapa fasilitas baru, diselesaikan melalui bentuk permukiman baru ini. Bangunan-bangunan baru disisipkan diantara bangunan-bangunan yang tidak mengalami kerusakan berarti karena gempa tersebut. 92 unit rumah yang terdapat dalam 5 kelompok apartemen; 4.370 m2 jalan; 6 buah taman seluas 2.170 m2 dan 1 balai warga seluas 110 m2 menjadi satu dengan bangunan-bangunan lain yang selamat dari gempa.

 

Hal yang menarik dari proyek rekonstruksi ini adalah adanya konsep joint housing. 5 kelompok apartemen tersebut adalah representasi dari rumah-rumah yang hancur. Kebijakan kualitas lingkungan yang lebih baik menuntut konsekuensi penggabungan beberapa rumah menjadi satu dalam satu apartemen berlantai 2 hingga 5. Pada awalnya memang sempat terfikir bahwa konflik pasti terjadi, mengingat tanah merupakan aset yang sangat mahal harga nya, namun di sini lah salah satu peran Machizukuri untuk meyakinkan masyarakat sekaligus memberikan solusi yang tidak merugikan pemilik tanah. Dengan merubah pola permukiman horisontal menjadi vertikal kepadatan menjadi berkurang, ruang terbuka yang lebih banyak lebih mudah diwujudkan, serta penanaman pohon di sekitar rumah-yang menurut penelitian tepat setelah gempa, sering mencegah kerusakan dan menghentikan penyebaran api (—,1999) juga menjadi mudah dilakukan. Sehingga, Secara tidak langsung menciptakan pola permukiman yang meminimalkan kerusakan dan menjaga fungsinya pada saat terjadi bencana.

Beberapa aspek desain dapat dilihat dalam joint housing ini. Bagaimana pandangan, kualitas udara dan sinar matahari yang baik diterjemahkan melalui tersedianya dua sisi dinding unit yang terpasang jendela. layout tiap unit didesain sesederhana mungkin namun tetap dalam perhitungan yang mencukupi kebutuhan penghuni. Jalur sirkulasi dan evakuasi yang mudah dimungkinkan dengan koridor yang luas dan pilihan arah serta metoda (lift, tangga, ramp). Aspek aksesibilitas bagi difabel (anak-anak, lansia, tuna daksa dan sebagainya) diimplementasikan pada jalur sirkulasi, lantai rumah tanpa perbedaan ketinggian serta fitur-fitur aksesibilitas lainnya di dalam rumah.

 

Proses rekonstruksi di kawasan lain seperti Kobe Nankinmachi, Sumiyoshi, Kamimae dan Rokkomichi dilakukan dengan strategi yang berbeda-beda, karena proses ini tergantung pada konteks hukum, tempat dan masyarakat di kawasan tersebut. Sebagai sebuah contoh kasus, Wakamiya-chiku bisa memberikan gambaran strategi redesain sebuah kawasan dan memancing ide-ide baru dalam proses-proses serupa yang sedang berlangsung.


Japanese Seasons: The Wonder of Short Time

December 8, 2007

writed at osaka, july 2007 for a magazine (unpublished) 

Season, simply, can be understood as a period of a year that has a certain weather conditions. But for many cultures, season is a sign for an action. Agrarian cultures, for example, interpret seasons and use it to decide the planting time. Season is also able to be attractions itself, and Japan is the one for it. Here, Japanese treat seasons with a high respect. Seasons are guidance. We will find, how their traditional dress, kimono, differ according to the seasons; and astonished that every seasons has their specific cuisine. It can be seen too, how house decorations, food arrangements, eating and drinking tools, ceramics painting always represent season when they are in. Yes, seasons in Japan are a life itself. It creates life. It rules on the way of living; and it is what life is for. Here, people entrust their soul in the seasons’ beat. All of the seasons phenomenon are an amazing orchestra, but however two seasons’ occasions that are really appreciated and very well-known by the world are the time when cherry (sakura) blossoms for the spring, and when maple (momiji) shines for leaving the autumn.

sakuramomiji

(other photos can be found at http://www.photoblog.com/perjalananku) 

In Japan, Colorful maple’s leaves that called koyo are almost impossible to be missed. Everyday, in the weekend and even in the weekday, you will see many Japanese people standing or sitting on their full silences against these colorful leaves moment. This is what usually called as viewing the autumn koyo—or more common with momiji-gari (autumn foliage viewing). It is a custom that already rooted since the Heian period (794-1185). It was that Wikipedia describes as the times when the nobles “enjoyed playing music, composing poems, and gathering beautifully colored leaves” while “dwell upon how things change”. Sakura, even, is greeted with more spectacular way. A special parties and festival is held for the flower that mostly blossoms in beginning of April. In O-hana-mi, or blossom festivals, thousand Japanese families or group of people will go to the most beautiful sakura blossom spot, spreading out their mats, sitting under the blossom sakura, chatting, laughing, drinking, eating, and others. Just enjoying the time, and share all of their happiness and hopes harmoniously with the beauty of sakura.

So, why is it become an exceptional time for Japanese? Trying to understand, it is noticed that the answer is laid on its Japanese’s specific culture itself. There are three cultural elements that involved in this uniqueness, that are reduction mentality, Nature and Belief. Lee (1982) in his book “Smaller is Better” explained this first element—reduction mentality—as something that easily met in many Japanese’s products, from architecture, planting, crafting and manufacturing. A mind of changing anything to be simpler in form, more effortless to be controlled, easier for understood, and etc. Lee (1982) again narrated that “when Japan’s reduction mentality is expressed in temporal terms, it becomes ‘one meeting in a lifetime’—the essence of death distilled”. This explained why for Japanese a short moment of cherry blossom in the beginning of spring and colorful leaves in the transitional time of autumn-winter are always waited and enjoyed with full attention. It is one meeting in a lifetime. It is a time and a moment that we never know we will be or won’t be in it again next year or even tomorrow. It is a full uncertainty time where we will always ask, “is it will be the same beauty that we have seen today?” No ones know. So, now is absolutely the most valuable time. “The flowing, transitory world”, Ryoi (1661) said. The short time of color changing in momiji also helps to build this sense. It is also happen in cherry blossom in the spring. They “bloom, fade, and scatter so quickly. If flower did not wither and die, people would not be so attached to them and would not gaze at them with the same sense of tense anticipation (Lee, 1982)”.

The second element, Nature, for Japanese, is not only about scenery but it is about the power, the kindness, the strength or the gentleness of nature; and it is considered directly influence Japanese people characters. The fact that they live in an islands country—with many Natures phenomenon is very usual to be experienced, make the relationship within Japanese people and Nature is more than physical relationship. It is the relationship of respecting, loving, and capitulation. How Japanese responses against Natural disaster by said “shoganai (it can’t be helped)” and how a ryokan, a Japanese inn, is designed “to perfection of a way of life that combines buildings and nature harmoniously (Fahr-Becker, 2005)” are the examples. With all of this respect, Nature is used as a background of garden; borrowed as part of viewing scenes, bring in as a picture in holding fan and shoji, or even minimize as a bonsai. So that’s why, in spring, sakura is so beloved and in autumn, koyo is much admired. Because koyo is a Nature’s blessing for the living, contrasting with its chilliness; and sakura is a symbol of fertility. This is how the nature creates and shows its art masterpieces, a perfect aesthetics that in Zen called with wabi-sabi.

And the third elements—Belief—strengthen this spiritual relationship. Season for Japanese (Buddhism) is a concretion of reincarnation in Nature. The changing of season (spring-summer-autumn-winter) is some like a circle of life, where “life newly born in spring, thrives in summer, bears fruit in autumn, and withers away in winter toward death. (? ,2006).” Fahr-Becker (2005) wrote that “The glowing red atmosphere of the Japanese autumnal foliage is not only an expression of a transitory moment but the hyperbole of destruction and creation. Red is a synonym for heat, the life cycle, the experience of high temperatures, a daily recurring natural spectacle of a burning, setting sun, and autumn symbolizes the powerfully flickering and glowing nature and simultaneously its temporal death. And When in April the cherry trees appear to be bursting with blossom and the mantle of air is tinged pink, one knows that the earth has revitalized itself and winter is passing. It is a celebration of fertility and the life that is perpetually renewing itself.”

If time come and the chance is there, try to land your feet on this island of temples. Take the deep breath, smell the land perfumes, listen to nature song, and open your eyes, then try to immerse in the perfection of pink atmosphere of sakura or the wonderful leaves nuance of momiji. Finally, let’s find the equilibrium of life within it.


KLIA-Stasiun Sentral-Petronas-Sistem Rel: Membangun Citra dengan linkage

November 1, 2007

ditulis Maret 2005 untuk sebuah harian nasional (tidak terbit) 

Malaysia menjadi salah satu negeri yang memiliki daya tarik tersendiri, sebagai tempat bekerja ratusan ribu penduduk Indonesia membanting tulang di sana, sebagai negara tujuan wisata ratusan ribu pula masyarakat penjuru dunia mendatanginya. Ya, Malaysia telah menjelma menjadi salah satu kota Asia modern, bahkan dengan brand image “Malaysia: Truly Asia” nya, citra Malaysia sebagai tempat yang paling tepat untuk melihat, merasakan dan mengalami kebudayaan dan alam Asia dipasarkan. Dengan modernitas dan brand image nya, Malaysia berhasil menjadi  salah satu negara favorit sebagai tujuan. Seperti yang diutarakan Lynch (1960), citra sebuah lingkungan adalah hasil dari proses dua arah antara pengamat dan lingkungannya, dimana lingkungan menawarkan kekhasan dan keramahannya, sementara pengamat memilih, mengorganisasikan dan memaknai apa yang ia lihat. Untuk itu sebuah objek harus memiliki tiga komponen yaitu identitas, struktur dan makna (Lynch, 1960). Empat elemen yang memiliki tiga kompoen pencitraan tersebut adalah jalur KLIA-Stasiun Sentral-Petronas-dan jaringan ERL-LRT.

 

KLIA-the gate

Inilah pintu masuk Malaysia. Kuala Lumpur International Airport (KLIA) -dibangun  di atas lahan 25.000 ha di Sepang-berada  posisi sangat strategis dimana ia dikelilingi oleh empat kota utama yaitu Kuala Lumpur, Shah Alam, Seremban and Malaka. KLIA boleh jadi merupakan salah satu bandara terbaik yang dimiliki oleh kawasan Asia Pasifik. Dengan perencanaan dan desain yang menggabungkan kehijauan alam dan kerahaman Malaysia sebagai identitas Malaysia dengan teknologi mutakhir yang mampu memaksimalkan keamanan, kenyamanan dan kesempurnaan pelayanan, KLIA menjadi titik awal pencitraan Malaysia.

Kisho Kurokawa, arsitek terkenal Jepang yang mendesain bandara ini mengetengahkan temaairport in the forest, forest in the airport (bandara dalam hutan, hutan dalam bandara)” untuk mencapai citra tersebut. Dengan hutan tropis yang mengelilingi bandara, KLIA muncul sebagai simbol modernitas di tengah hijau nya alam Malaysia. Tema ini terus diimplementasikan dengan menanami puluhan jenis tanaman di sekelilingi fasilitas bandara serta dengan menciptakan arboretum hutan hujan di bagian inti terminal internasional KLIA.

KLIA menjadi salah satu elemen yang membawa posisi Malaysia sejajar dengan negara-negara maju lainnya dengan menjadikan semua yang terkait dengan KLIA sebagai yang terbaik, misalnya lahan 25,000 ha tempat KLIA berdiri adalah salah satu lahan konstruksi dan lahan bandara terbesar di dunia, 4,5 tahun merupakan proses pembangunan bandara tercepat yang pernah dilakukan, memiliki menara pengawas tertinggi di dunia (120m), sistem bagasi terpanjang, ruang tunggu penumpang terbesar dan kapasitas bandara sebesar 25 juta orang setahun. Sejak dioperasikan penuh pada 29 Juni 1998, KLIA menjadi  gerbang pertama citra Malaysia.

Susunan kolom-kolom yang menyangga konstruksi atap menjadi gerbang yang menyambut calon penumpang menuju terminal utama (dok. harry kurniawan)

Stasiun Sentral- the hub of modern transit

Stasiun Sentral yang berdiri di atas lahan seluas 30278m2, merupakan salah satu fasliitas yang dimiliki oleh komplek KL Sentral-yang didesain oleh arsitek Kisho Kurokawa. Stasiun Sentral sendiri didesain oleh GDP Architects Sdn Bhd untuk melanjutkan peran KLIA dalam sistem linkage citra Malaysia., Stasiun Sentral -yang mulai  beroperasi 16 April 2001-menjadi  titik penting untuk menunjukkan modernitas sistem transportasi Malaysia.

Stasiun sentral KL dikenal juga sebagai “Virtual City Airport” station karena bagi calon penumpang pesawat terbang, stasiun sentral merupakan bagian awal dari sistem pelayanan penerbangan yang nyaman, dimana stasiun juga berfungsi sebagai KL CAT (city Air Terminal) yang memberi kesempatan penumpang melakukan check-in untuk penerbangan dan bagasi sehingga mereka dapat lebih menikamti perjalanan sebelum penerbangan dengan memanfaatkan fasilitas-failitas yang ada baik di KL Sentral maupun KLIA.

Desain Stasiun Sentral -seperti halnya KLIA-menggabungkan identitas Malaysia (karakter dan keunikan pola dan motif budaya) dengan teknologi, melalui proses penataan fungsi ruang yang abstrak, tumpang tindih dan saling berhubungan namun tetap menghargai individualitas masing-masingnya. Ini tercermin melalui fungsi-fungsi komersial, CAT, Stasiun, dan ruang-ruang publik yang tidak terpisahkan secara visual namun dengan teritori dan karakter masing yang tegas. Sebagai kelanjutan dari KLIA maka beberapa elemen desain bandara juga diintegrasikan ke dalam desain keseluruhan stasiun, seperti konsep desain “Airport in the Forest and Forest in the Airport” yang kembali diterapkan melalui unsure-unsur tanaman di luar dan dalam stasiun.

Stasiun Sentral merupakan titik pertemuan antara Express Rail Link (ERL) yang menghubungkan KL Sentral – KLIA dan Commuter Rail Service (CRS)/KTM komuter yang menghubungkan Port Klang-sentul dan seremban-rawang; serta LRT (light rail transit) dan KL Monorail yang menuju stasion-stasion di seluruh penjuru kota.

Salah satu fasilitas modern yang ditawarkan Stasiun Sentral adalah City Air Terminal dimana calon penumpang bisa melakukan check-in untuk penerbangan dan bagasi mereka. (dok. harry kurniawan)

Petronas Twin Tower-the heart

Posisi nya dalam skema perjalanan kunjungan ke Malaysia memang bukan yang pertama, namun Petronas Twin Tower tetap menjadi elemen pencitraan yang paling penting bagi Malaysia. Status nya sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia mengangkat citra Malaysia sebagai negara dengan penerapan teknologi yang maju. “Bangunan ini telah menjadi ikon yang mengekspresikan kebudayaan masyarakat kontemporer Malaysia dan membangun di Negara yang kaya tradisi untuk membentuk sebuah kota dunia”, demikian komentar dewan juri ketika menganugerahkan Aga Khan Award 2004 kepada Petronas Twin Tower.

Menara Petronas adalah bagian utama dari daya tarik kompleks Kuala Lumpur City Centre (KLCC) yang berada tepat dijantung kawasan komersial kota Kuala Lumpur. Menara ini memiliki tinggi 452 meters dengan jumlah  lantai 88.  Cesar Pelli -sang arsitek-memadukan identitas Malaysia dan modernitas melalui pola-pola yang dikenal dalam kebudayaan Islam (sebagai agama mayoritas) dengan struktur, teknik, dan material yang digunakan. Denah masing-masing menara yang berbentuk bintang segi delapan diambil dari pola budaya Islam. Kita juga dapat melihat penggunaan pola-pola geometris kebudayaan Malaysia pada ornament aristektur dan dekorasi. Iklim tropis Malaysia disiasati dengan teritisan yang mengurangi panas matahari yang masuk.

Petronas Twin Tower -seperti yang dituliskan oleh Pelli (2001)-bukan  saja tinggi dalam dimensi fisiknya, tapi merupakan puncak dari hasrat kita untuk menghubungkan bumi dan surga melalui arsitektur. Bagi Malaysia, Menara ini menegaskan posisi negara dalam ekonomi dunia, dan menunjukkan citra Malaysia sebagai negara yang berhasil memadukan budaya timur dan barat, dan menjadi gerbang bertemunya kedua budaya.

Dua menara yang dibentuk dari pola geometris budaya Islam menjulang tinggi sebagai usaha Cesar Pelli menghubungkan bumi dan surga melalui arsitektur. (dok. harry kurniawan)

Sistem ERL dan LRT-the linkage  

Citra Malaysia bukan saja didapatkan dari apa yang ditampilkan oleh KLIA, Stasiun Sentral dan Petronas Twin Tower, tetapi juga pada linkage visual yang diciptakan ketiganya melalui Sistem Rel yang ada. Linkage visual menjadi sangat penting untuk mengikat dan menyatukan  citra yang telah terbangun, karena ia-seperti yang dikatakan Bacon (1978) mampu menghubungkan  dua atau lebih fragmen kota dalam satu kesatuan visual, serta menyatukan daerah kota dalam berbagai skala.

Sistem transportasi yang baik -seperti yang dituliskan Tsukio (1997)-memberikan  keberlanjutan makna transportasi antara kedua tempat dan menggambarkannya sebagai sesuatu yang dekat, bukan dalam ruang tapi dalam waktu, dan seperti yang diterapkan di Malaysia, jarak KLIA-Stasiun Sentral sejauh 57 km dapat ditempuh lebih kurang 28 menit dengan Express Rail Link (ERL) dan jarak Stasiun Sentral-KLCC (Petronas Twin Tower) sejauh kira-kira 15 km dengan menggunakan Light Rail Transit (LRT) Kelana Jaya-Terminal Putra dapat ditempuh hanya selama 30 menit saja (tanpa terjebak kemacetan kota Kuala Lumpur), sehingga bagi penumpang transit pesawat terbang dengan waktu lebih kurang 2 jam mereka sudah dapat menikmati Malaysia dan kembali lagi ke KLIA untuk melanjutkan perjalanan. Selain ERL dan LRT, wilayah-wilayah di kota Kuala Lumpur dan Malaysia juga terhubungkan oleh jaringan KTM komuter dan KL Monorail, sehingga kedekatan yang dihasilkan oleh Sistem ERL dan LRT ini semakin mampu membangun dan memperkuat citra Malaysia sebagai Negara dengan identitas timur dan modernitas barat, melalui sistem transportasi yang nyaman dan modern.


Tenjin matsuri 2007: an Impression

July 31, 2007

 I had to choose, rikutogyo or funatogyo that I would watch in this 2007 Tenjin Matsuri. I understand that I cannot be in the two places if I want to get the best viewing spot on Matsuri (Festival). Yap, I don not know what is the most appropriate word to explain Matsuri in Japanese people life. What I can understand from attending several matsuri before (Jidai Matsuri, Ohara-me Matsuri, and Gion Matsuri), it is a time when almost all people come to gather. At big and famous matsuri-including Tenjin Matsuri, one of three biggest local matsuri in Japan, you will also find people far from their home. Unintentionally, most of Matsuri was done not in holiday or weekend, therefore children and mothers and grandparents always dominate it. When I saw them and heard what they were talking about while the festival, I think matsuri is time for continuing the culture from generation to generation, beside of course it is the right time for picnic.

Four others festivals that I already saw before is done in street, so for this Tenjin Matsuri I chose to see funatogyo (boat procession). Funatogyo was started at around 18.00 right after rikutogyo was finished. Funatogyo route are on Okawa River, one of the most important rivers in Osaka City History. Boats were floating through the river for several times. Actually Osaka University and International Division reserved seats that can be applied by Osaka University students and Foreign Students, but I think it was better to watch from different spots and felt the atmosphere from Osaka people crowded. I did not count how many boats that joined the parade, but I think it was more than 20 boats participated.

Funatogyo was held until 23.00 o’clock. While during the funatogyo, Fireworks show is done in the same place. Finally I think it is better to see rikutogyo for a better understanding on Japanese tradition. May be we can more feel the spirit that built by historical Tenjin Matsuri and people that did it, merely because the distance between us (audience) with the parade closer and does not have physical barrier. Seeing funatogyo, I loose my feel about Tenjin Matsuri tradition, may be it was also because I actually do not have any reference about Tenjin Matsuri and especially funatogyo value. I still saw several familiar elements in Japanese tradition and its matsuri that I saw several times before, but it was seem that commercial aspect was too much involved. Several special company boats with their advertisement and several others boat with reserved seat people in it are the reasons. I do not know other people impression on it, but I think the special reason people were crowding along the river at that night was for watched the fireworks (hanabi). I just heard audience respond when the fireworks was filled the sky, but never heard any respond when people from the boats invited audiences respond. The interesting thing that I can remember only how people in one boat gave regards to people in other boat through clapping their hands. Next Tenjin Matsuri, I hope I will get better impression and experience.

for complete information about Tenjin Matsuri, click http://www.osaka-info.jp/tenjin_matsuri/


Gion Matsuri: an Impression

July 27, 2007

all my photos about Gion Matsuri can be seen at  http://www.photoblog.com/perjalananku/2007/07/16/

Name of Gion Matsuri (festival) is very famous not only for Japanese people but also for foreigner. This is one of three biggest festivals in Kyoto beside Jidai Matsuri and Aoi Matsuri, even it is said to be one of three largest local matsuri in Japan beside Kanda Matsuri in Tokyo and Tenjin Matsuri in Osaka by ‘Kyoto Gion Matsuri Volunteer 21′ website[1]. Therefore July 17th, 2007 was marked in my schedule calendar.

I have to said that Gion Matsuri is “a have to be seen” matsuri, because it is quite different with others. Several things mark it uniqueness. 32 floats are put in my first number of list. There are two kinds of floats that built and pulled around the Hokomachi district. Hoko floats are about 12 ton weight and 8m height from ground to roof (25m from ground to tip). The wheels that made from wood are about 2m diameter. 30-40 people will pull it. Yama floats are other. They are smaller than Hoko floats, but still have about 1.5 ton weights. These 6m floats will be carried by 14-24 people. They decorated beautifully with several ornaments, including with Dutch and Turkish tapestries from the 15th century.  

Second is the matsuri time. 1 month matsuri, till I found another longer ones, is the longest traditional festival I ever know in the world. Today Gion Matsuri arrangement is noted started since 16 century when merchants and townspeople revived it from two decades absence. One month procession is a compilation of honoring God times and expressing the neighborhoods and professions pride[2].

  

Third is the Yoi Yama time. July 14th-16th when the Yoi Yama time is scheduled, it shows that parade is not the only important and essential things. In these three days, the preparation of floats will be completely done. It really impresses me, many people from children, youths, adults, parents and elderly using yukata and flooding Kyoto especially around Hokomachi district. It is also the right time to see how the floats and visitors relate with space in this Hokomachi district. July 16th is summit of preparation activities. I came since the afternoon to see and capture how it is looked like before the light will take over the sunshine. Already came to Kyoto several times, I just realized that Machiya district is bigger than what I just saw before. It is mean how trader is have a big influence in Kyoto’s history; and Gion Matsuri I thought is their fortune indication. From the map, floats are spreading in several spots on neighborhood roads. In several spots of Hokomachi, some parts of machiya were opened for matsuri purposes. This “Mise-no-ma” was decorated and here they exhibited the family’s folding screens (Byoubu) or Shinto decorations for the Gion Matsuri’s float. In other house, a small alley in one side of machiya was opened. Visitors and me flowed inside it and found a courtyard where there is small shrine, and kura on it. A side room was also opened, therefore from this courtyard we can see several Shinto decorations that will be put on the floats on parade day. This customary that began since Edo period exhibits the flexibility of machiya to the visitors. In the night, it became human swell. Hundreds stalls (food, toys, drink, game and etc.) change the district to night market. For me, it was not a good time to enjoy watching and exploring the machiya district and floats preparation because of the crowd. But at least, see the lampion illuminated the floats and blend with crowding people’s atmosphere bright my night.

A little bit late I thought when I arrived at 8.00 in Karasuma Subway Station and finally found the best spot to see Tsujimawashi (turning of the floats 90 degrees around corners[3]) process at Shijo Kawaramachi intersection. Along the route of parade, there are only three places to see this procession (Shijo-Kawaramachi, Oike-Kawaramachi and Oike-Shinmachi intersections); therefore people already overrun each corners of intersections. Wait till the road was closed, I finally can sit in front row at Shijo Street, even not the best view angel but I think it still better because Tsujimawashi still clearly see, plus I also can see the parade walked in the Shijo street. Tsujimawashi is the fourth in my uniqueness of Gion Matsuri list. The gigantic size of floats which is traditional form and technology make it almost impossible to turn around. Therefore how peoples collaborate to make it possible was waiting. As scheduled, Yamahoko Jyunko (Yamahoko Grand Parade) was started at 9 AM. Naginatahoko led the parade. This is the only float that real people (beside the musician) are sitting inside it, and always become the number one floats in every year Gion Matsuri parade. The other specialty of Naginatahoko float is that in this float the special matsuri kids (child of Naginatahoko and child of Kuze) are. With accompanying music, two people guided the 30-40 people to pull the float. At the intersection they stop for a while and other team starts to prepare the float rotation instrument. It is really amazed. They used bunches of bamboo for rotate the wheel direction. After the wheel on bunches of bamboo, on one signal, they pull it to the right direction. For 90 degrees rotation it was take 2-3 time process. For smaller float (yama floats), the rotation is done by it 12-24 carriers. The last float passed this intersection at about 12 AM.

Several other ceremonies still would be done after this parade time until the end of July. More time we can spend for involve in it, more astonish we will be.


[1] http://www.gionmatsuri.jp/manu/manual.html

[2] Further information on history and description can be seen at Japanese Architecture and Art Net Users System website (http://www.aisf.or.jp/~jaanus/deta/g/gionmatsuri.htm)

[3] Quoted from Kyoto City Website


Accessible Mobility Issues in TRANSED 2007

July 23, 2007

July 2007, written by Harry Kurniawan–Participant of TRANSED 2007 11th International Conference on Transportation and Mobility for Disable and Elderly, at Montreal, Canada(Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia)

Remembering what Antonio[1] said in Shakespeare’s “Twelfth Night” that “In nature there’s no blemish but the mind; none can be called deformed but the unkind: …” I once again read the similar meaning statement here in Montreal. It said: “People are not disabled by their impairments alone, but by the environment and society in which they live[2]. We can understand both statements as a clearance statement that handicapped or disability actually are never exist, it is created by us and judge it to other part of us. It is an appropriate statement to begin the TRANSED 2007 conference and also to remind any ones about what actually they face, learn and fight for.

TRANSED 2007, an 11th International Conference on Transportation and Mobility for Disable and Elderly was held in Montreal, Canada from 18-22 June 2007. It was already more than three years since last 10th conference in Hamamatsu, Japan. This time, under the theme “Benchmarking, Evaluation and Vision for the Future”, the conference tried to approach the better understanding and strategy for the better future world. As reported by the conference organizer, the conference was attended by around 600 participants including full paper and poster presenter.

June 19th, 2007, one day before the conference is opened officially; TRANSED 2007 provided technical tours to two facilities in Montreal that created based on accessible principle, need and purpose. Once of technical tour destination was Paratransit central office. Paratransit Societe de transport de Montreal (STM) is a door to door service that especially operates for elderly and people that use supporting instrument for their mobility. This service is based on advanced reservation system and covers the Montreal area. In the presentation by Paratransit management, at December 31, 2006, they already had 15,539 registered clients, consist of physical disability (69% clientele and 54% trips), intellectual disability (16% clientele and 37% trips), psychiatric disability (9% clientele and 5% trips) and visual disability (6% clientele and 4% trips). Other statistic shows that during 2006, 63% were regular trips and 37% were occasional trips. It is mean a lot for a Paratransit service existence and any activities proposing this kind of service in any areas in any countries. The fact that London (United Kingdom) and Philadelphia (United State of America) also operate the same service strengthens its essence.

From whole conference program, public transportation becomes the most discussed topic. Mass transportation is most promising transportation model for solving city mobility problems. Considering these opportunities, accessibility become essential element for implemented, not for declaring as exclusive group but more because accessibility is the only way that can fulfill big range of human diversity. In general term, presentations showed how several countries have deal with it. Each country tries to look for the best mass transportation mode that fixed to their country conditions. Some major conditions that must be considered are geography and climate. In discussions in once pre-conference tutorial session with theme “Accessible Transport Strategies to Address Problems Unique to Developing Countries”, it is cleared that bus’ floor high choice (low floor or medium or high floor) have to be chosen base on each city characteristic. Low floor bus is not always the better choice; because in several cases, low floor bus will find difficulty operate in very long and very cold winter cities with high snow pile, or in the opposite, it is also not working well in cities that often water flooding. The choice of bus’s floor high is created to give alternatives on making the more fluent mobility and accessibility. Mass transportation mode such as BRT (Bus Rapid Transit) becomes the most popular mode in many countries including developing countries. It provides a high passenger quantity with low operation cost. Since Curitiba in Brazil success to promote this model, more and more South American’s cities implement it and three cities in Asia also use it (Beijing, Jakarta, Huangzhou).  

The second topic is alternative transportation mode. Montreal already shared one form of alternative transportation mode with its Paratransit. Alternative transportation mode fills important rules in area where mass transportation modes such as bus rapid transit, subway, MRT can not rise. Hong Kong has a long experience on providing this service mode. 28 years from 8,000 to 562,000 trips for disabled passengers[3], it is growing and serving. Started with Rehabus (7-seater van) in 1977, then they initiated “Easy-Access Bus” transport service in 2001 for fulfill accessible buses needed in individuals and organizations’ activities. And on their latest new, Hong Kong will try to promote wheelchair-accessible taxis as their newest Door-to-Door service. Furthermore, nowadays Door-to-Door service mode becomes main pick to promote accessible tourism. The world ageing issue and the fact that elderly have a high enthusiasm to travel around the world are the right consideration. Canada with its Keroul (http://www.keroul.qc.ca/en/accessib/); Hong Kong with its Easy-Access Travel (http://www.easyaccesstravelhk.com/ets_travel/backgroup_e.htm) are an excellent example of accessible tourism services. The information that they provide through website and book is also an important example in barrier free world. 

The third topic is related with several research results on pedestrian safety. Concerning pedestrian path as neighborhood route and meeting place, pedestrian safety especially for older people has to be realized as importance issue. Statistic of fatalities for older pedestrian (65+ years old) shows number such 12-20% in Europe and USA; 63% in Pakistan, and around 40% in others[4]. Therefore any pedestrian safety improvement efforts have to be taken, such as separating the pedestrians from vehicles (for example by providing a sidewalk); pedestrian only areas where possible; reduce traffic volumes by directing traffic away from areas of high pedestrian activity and from residential areas; reduce traffic speeds; provide pedestrian crossings; provide street lighting; and improve infrastructure[5].  

Pedestrian path surface types, audio pedestrian signal and gap analysis were some other interesting themes that I noted down on pedestrian safety issue. Horizontal and vertical gap already consider as problem in creating accessible public transport. The gap between platform and transportation’s floor (bus, subway, MRT, etc) can not be omitted yet, and have to use added bridge for solve it. Delft University of Technology, as asked by Dutch National Office for Accessibility, tried to “know how much can be achieved by narrowing the gap: which type and gravity of disability will be accommodated and the numbers of disabled who will profit from a certain investment to decrease the width and height of the gap”[6]. As reported in the Daamen’s (2007) paper, the standard (EU COST 335 report on accessible trains) require 5×5cm as a maximum ‘preferable’ gap for wheelchair users, while British’s “CEMT 2006 guide “Improving Transport Accessibility for All’ indicate that ambulant people should not be confronted with a gap of more than 20cm (horizontal and vertical gaps added) and wheelchair users need smaller gaps: a maximum of 4.5cm horizontal and 2.0cm vertical[7]“. From all experiment participants (scoot mobile, electrical wheelchair, wheelchair, rollator, cane), the team confirmed that the ideal measures of 2×2cm is considered as the best gap or at least 2cm(w)x5cm(h) is still accepted for all type walking aids, while 5×5cm gap is qualified as the acceptable for wheelchair users in several manuals.

At two different technical sessions, two presenters talked about pedestrian surface, especially for winter cities case. Takahashi, Naoto, and team from Civil Engineering Research Institute for Cold Region, Sapporo, Japan presents their experimental research result toward pedestrian-friendly winter environment. With eight courses that compiled form variation of treatment (abrasive), evenness and walkway width attributes (course 1: flat, wide, untreated; course 2: flat, narrow, untreated; course 3: flat, wide, treated; course 4: flat, narrow, treated; course 5: bumpy, wide, untreated; course 6: bumpy, narrow, untreated; course 7: bumpy, wide, treated; course 8: bumpy, narrow, treated), they found that the highest utility value was “courses with the abrasive”, then “flat courses” and “wide courses”.

The last topic is about “Importance of Location of Audible Pedestrian Signals[8]” that reported by Billie Louise Bentzen (Accessible Design for the Blind, USA). Focused on the effect of variation in APS location on identification of which crosswalk has the audible walk signal[9], Bentzen did experiments with several variations of APS locations at for corner of simulated and real intersections. Result show that corner where two-poles near-the curb configuration was the very low error rate on 7.55% possible trials and significantly the fastest response (2 seconds) for the correct crosswalk. Two poles near the curb with same-tone condition also considered as the lowest error rate (3.57%). Finally, the loudspeaker location on the center of crossing space found as the best location for right and safety crossing guide.   

For all participant and countries, any results from this conference can confirm, fixes, and completed any effort in providing accessible transportation and creating accessible mobility in each places. Therefore, soon everyone can enjoy their daily activities without feel uncomfortable or worst be discriminated.


[1] Antonio is one of character in Shakespeare’s “Twelfth Night” scenario. In Act 3, Scene 4, he says the sentences that I am quoted.[2] From poster produced by European Conference of Ministers of Transport (ECMT)[3] Quoted from “How Hong Kong’s Door-to-Door and Service Routes Grew in 28 years from 8,000 to 562,000 trips for disabled passengers” article of Accessible Transportation Around the World, The Newsletter of Access Exchange International, January 2007 (http://www.globalride-sf.org/)

[4] Datas is noted down from Christopher Mitchel’s presentation: Safe Mobility For Older And Disabled Pedestrians, June 21st, 2007, TRANSED 2007, Montreal, Canada

[5] OECD, 2001 on Mitchel, Christopher., 2007, Safe Mobility For Older And Disabled Pedestrians, TRANSED 2007, Montreal, Canada

[6] Quoted from Daamen, Winnie., Enne De Boer, and Robert De Kloe., 2007, The Gap Between Vehicle and Platform as a Barrier for the Disabled, TRANSED 2007 Proceeding, Montreal

[7] ibid

[8] Bentzen, Billie Louise., 2007, Importance of Location of Audible Pedestrian Signals, TRANSED 2007 Proceeding, Montreal

[9] ibid


Ketika Tunanetra Memilih Bepergian Sendiri

July 12, 2007

SEMUA manusia dilahirkan “sama” dan memiliki hak sama pula menjalankan dan menikmati hidup. Dalam kehidupan nyata yang dinamis, pemenuhan hak tersebut menyebabkan setiap orang tanpa terkecuali membutuhkan informasi dari dan tentang lingkungannya untuk melakukan aktivitasnya dengan baik.

INFORMASI lingkungan diartikan Passini (1984) sebagai semua informasi penting meliputi komponen deskriptif, lokasional, dan waktu, yang memungkinkan seseorang menyelesaikan tugas pencarian jalan. Namun, informasi lingkungan ini akan bermanfaat jika ia bisa dimengerti, diorganisasi, dan diingat. Untuk mencapai ketiga syarat tersebut, media penyampai informasi menjadi alat sangat penting.

Bentuk media penyampai informasi pada fasilitas publik cukup mudah kita temukan keberadaannya dan variasinya. Namun, rasanya sulit menemukan media penyampai informasi yang benar-benar tidak mendiskriminasi.

Pengembangan media penyampai informasi yang mampu diakses oleh kaum difabel inilah yang harus menjadi fokus perhatian di Indonesia. Dari sekian macam ke-tuna-an, tunanetra adalah kelompok yang tidak mengandalkan indra visual sebagai alat pengumpul informasi, padahal indra visual pada orang “normal”, menurut Setyo Adi Purwanto (Setiawan, 2002), berkontribusi menyampaikan 85 persen informasi.

Passini (1984) menunjukkan, seseorang berada pada koridor yang ditentukan karena dia menemukan tujuannya (informasi sensorik) dan mengetahui tujuannya ada pada koridor itu (informasi memori). Pada tunanetra, dua proses yang dilakukan adalah mengganti informasi visual dengan informasi nonvisual dan mengorganisasi informasi tersebut secara teratur.

Ada tiga media penyampai informasi pasif bagi tunanetra yang mampu membantu kedua proses tersebut, yaitu denah timbul, penanda timbul, dan ubin pemandu-peringatan. Ketiga media pasif tersebut menempatkan sensitivitas indra peraba tunanetra sebagai dasar pembuatannya.

klik untuk artikel lengkapnya