Meninjau Ulang Desain Ruko

terbit di rubrik desain, Harian KOMPAS edisi Minggu, 30 November 2008

Rumah toko (ruko)-bersama dengan reklame-saat ini telah berkembang menjadi pembentuk wajah atau karakter kota. Di kota-kota Indonesia yang sedang berkembang bahkan hingga kota besar sekalipun, ia sangat mudah ditemukan di hampir seluruh bagian kota.

Ruko saat ini telah dipandang oleh masyarakat sebagai salah satu cara terbaik berinvestasi. Kondisi ini membuat pertumbuhannya tidak lagi menjadi monopoli pengembang atau pemilik modal besar namun juga dilakukan oleh perorangan. Ruko-sesuai dengan namanya-adalah bangunan yang diperuntukkan untuk dua fungsi sekaligus yaitu tempat tinggal (rumah) dan tempat usaha (toko). Dalam sejarah perkembangan kota, ruko merupakan perkembangan lebih lanjut dari bangunan chinatown di Asia.

Sebuah dilema muncul ketika melihat perkembangan yang terjadi saat ini. Ruko tidak dapat dipungkiri berperan sangat efektif dan juga sangat bermanfaat bagi kota. Paling tidak keberadaan ruko menjadikan kawasan tersebut menjadi hidup satu hari penuh (24 jam)-jauh berbeda dengan pola perkembangan kota saat ini yang memisahkan tempat tinggal dan tempat usaha, dan menyebabkan tempat usaha menjadi daerah mati di malam hari. Tipikal pemanfaatan ruko yang telah berkembang ratusan tahun tersebut hampir tidak pernah berubah, dengan fungsi perdagangan pada lantai-lantai bagian bawah dan fungsi hunian pada lantai atas. Namun fakta lapangan terhadap pembangunan ruko saat ini menjadi bertolak belakang. Ruko tidak lagi berhasil memainkan fungsinya secara efektif dengan banyaknya ruko yang terbengkalai kosong tidak terisi-baik kekosongan satu lot ruko maupun lantai ruko (biasanya pada lantai kedua dan seterusnya). Beberapa kecenderungan nampaknya menjadi penyebab, seperti lokasi yang kurang strategis untuk berusaha, lokasi yang tidak sesuai sebagai wilayah tempat tinggal, keberadaan ruko baru yang lebih ekonomis dan strategis, pola distribusi barang yang lebih efektif dan lebih lancar sehingga hanya membutuhkan ruang dagang yang kecil, serta beberapa kemungkinan lainnya. Di samping faktor-faktor eksternal tersebut, nampaknya desain bangunan ruko saat ini harus ditijau kembali sehingga pemanfaatan ruang ruko yang lebih efektif dan fleksibel bisa dicapai.

‘Multi storey retail’

Tanah yang kita tempati ini tidak selamanya akan selapang dan bisa diolah semudah saat ini. Pertambahan penduduk yang cepat berarti tuntutan akan tempat tinggal dan tempat usaha yang baru pun meningkat, dan dengan lahan yang tidak akan bertambah berarti akan semakin sulit untuk menyeimbangkan kebutuhan tersebut, seperti yang saat ini telah terjadi di kota-kota megapolitan dunia seperti Jepang. Dengan peraturan tata guna lahan yang ketat setiap pembangunan harus direncanakan dengan baik. Pembangunan vertikal adalah pilihan yang tepat dengan tetap menempatkan maksimalnya pemanfaat setiap lantai sebagai pertimbangan mendasar.

Bangunan ‘Multi storey retail’ mendominasi wilayah kota di Jepang. Bangunan ini secara manajemen tidak jauh berbeda dengan kantor sewa, namun secara arsitektural dengan dimensi umumnya yang lebih kurang 3.5m lebar dan 10-15m panjang, maka ia tidak jauh berbeda dengan arsitektur bangunan ruko. Hal yang membedakannya adalah penggunaanya lebih maksimal, dimana hampir setiap lantai terisi-meskipun bangunan tersebut lebih dari 4 lantai. Fungsi sewanya pun sangat bervariasi mulai dari perdagangan, perkantoran hingga tempat tinggal.

Fleksibilitas secara vertikal menjadi kunci utama pada bangunan tersebut, dan satu elemen yang terlihat menjadi faktor utama keberhasilan ini adalah cara memaknai tangga (Kurniawan, 2007). Tangga adalah media sirkulasi vertikal, yang tentu saja berdasarkan pertimbangan keamanan dan keselamatan menjadi elemen tak tergantikan oleh lift dan escalator. Namun dari bagaimana arsitek, pemilik atau pengguna memperlakukannya di Jepang, keberadaan tangga jauh dari sekedar alasan evakuasi. Dari penelitian di dua wilayah di Osaka serta pengamatan di wilayah-wilayah lain di Jepang, ada dua hal yang bisa kita bandingkan antara tangga multi-storey retail dengan ruko, yaitu letak tangga dalam denah ruko, dan penempatan elemen identitas (signage, etalase produk, banner, poster, dan lainnya) (Kurniawan, 2007).

Kurniawan,2007)Letak tangga di multi storey building di Jepang berbeda dengan pada ruko yang banyak kita temukan. Mereka meletakkan tangga di bagian depan bangunan (85-100% di wilayah penelitian) sedangkan ruko meletakkannya di bagian belakang dari bangunan. Secara historis memang jelas perletakkan tangga di bagian belakang tidak akan menganggu perdagangan yang hanya terpusat di lantai satu-apalagi jika melihat kepemilikan atau penggunaan satu unit ruko oleh satu pemilik, namun hal ini sekali lagi sangat berbeda dengan kondisi sosial, ekonomi maupun lokasi dimana ruko saat ini dibangun. Paling tidak ada dua tipe peletakan tangga yang mereka lakukan, namun keduanya memberikan hubungan langsung dengan jalur pedestrian serta fleksibilitas tinggi untuk berfungsi sebagai sirkulasi publik atau privat. Tipe pertama meletakkan tangga pada garis yang sejajar dengan ruang fungsional di samping nya, sedangkan tipe kedua muka bangunan ditarik mundur sehingga tangga berada pada ruang kosong yang menjadi transisi antara jalur pedestrian dan ruang fungsional tiap lantai.

Elemen identitas merupakan unsur kedua yang merubah makna tangga di bangunan-bangunan Jepang ini. Pada bangunan perdagangan seperti ini, elemen yang dapat membuat calon pengunjung merasa tertarik untuk mendekat serta masuk ke dalam bangunan (untuk fungsi toko) menjadi masalah yang krusial. Bangunan-bangunan retail di jepang kebanyakan berdiri tepat dipinggir jalur pedestrian beratap (arcade atau disebut sotengai), kondisi ini membuat fasade bangunan lantai dua dan seterusnya hanya terlihat dari jalan (pengguna kendaraan) dan jarak yang jauh, sehingga fasade (wajah bangunan) lantai pertama harus dapat dimaksimalkan fungsinya sebagai sumber informasi semua lantai. Elemen-elemen identitas tersebut dapat ditemukan di sekitar anak tangga pertama, di anak tangga, dinding sepanjang tangga ataupun atap tangga, serta dilanjutkan pada koridor tiap lantainya. Keberadaan elemen-elemen tersebut pada wilayah sirkulasi vertikal ini membuat wilayah ini dapat disebut juga sebagai “jalan”. Ashkenazi and Jacob (2000) pernah menjelaskan karakter yang sama antara wilayah tersebut dengan jalan/jalur pedestrian dengan mengatakan bahwa ‘koridor juga menjadi sebuah tempat dimana konsumen dimungkinkan untuk menemukan lebih banyak pilihan, berpikir bahkan membatalkan ketertarikan mereka untuk masuk ke toko’. Sebagai catatan, konsep “jalan” dalam bangunan sendiri telah menjadi tradisi dalam arsitektur Jepang tradisional (melalui ‘doma’ atau ‘toorinwa’ pada machiya) serta unsur penting dalam arsitektur kontemporer Jepang (seperti yang dilakukan Tadao Ando pada Gallery AKKA).

Tanpa mengurangi kebebasan arsitek untuk mendesain layout maupun fasade ruko, nampaknya ide peletakkan tangga di bagian depan ruko ini lebih dapat menjamin fleksibilitas penggunaan ruang secara vertikal, baik saat satu ruko tersebut digunakan oleh satu penyewa (pemilik) maupun digunakan oleh banyak penyewa (pemilik).

kurniawan,2007)

4 Responses to Meninjau Ulang Desain Ruko

  1. enrica says:

    ini benar tipologinya begini mas? ^-^ sepertinya disini fokusnya ada di “tangga” ya,kalau misalnya kita compare dengan kasus malioboro yang tidak berkonsep sama (tidak ada tangga di depan),menurut mas harry apa yang mendatangkan keuntungan dan menarik perhatian pengunjung secara arsitektural? bukankah itu sudah shotengai mitai deshou? kira-kira shotengai yang dengan tangga2 ini kalau tangganya dihilangkan..apa yang akan terjadi?

    • kurniawan harry says:

      kalau malioboro sepertinya satu ruko masih dimiliki oleh satu orang, sehingga masalah tidak akan terlalu besar jika tangga posisinya tidak di depan, tetapi jika variasi dagangan berbeda posisi tangga di belakang bisa menurunkan minat orang untuk mengakses lantai dua karena harus masuk ke lantai satu secara keseluruhan. memang yang aku usulkan mengarah ke bentuk shotengai ca, karena letak tangga di depan ini sangat fleksibel untuk penggunaan lantai dasar dan atas yang sangat berbeda fungsinya, misal toko dan rumah orang atau rumah di lantai dasar dan kantor orang lain di lantai atasnya. kalau tangga tidak di depan, yang kasusnya sama dengan ruko-ruko di Indonesia saat ini. banyak yang tidak efektif penggunaanya.

  2. katakugini says:

    hmm..
    tiba-tiba keinget sesuatu mas. Ini kasus beda lagi, tentang sejarah five foot ways yang diberlakukan di ruko singapore. Yang mebuat bangunan-bangunan ruko pada lantai atas lebih ke depan 5 kaki jaraknya untuk menciptakan ruangan selebar 5 kaki bagi pejalan kaki. Mungkin dilihat dari sisi ini, malioboro bisa lebih masuk di kategori desain yang ini. Nha, adanya tipikal bentuk-bentuk ruko yang seperti ini, menurut mas harry apa yang menjadi kunci utama terbentuknya tipologi benda yang bernama ruko?

  3. nad says:

    bagaimana ya pak,
    buat saya, ruko itu ada artinya buruk aja deh.
    mardiwuto dihancurkan buat dibikin ruko, alasannya dengan dibangun ruko, balik modalnya lebih cepet.
    terus kota purwokerto, pertumbuhan pembangunannya cepet banget deh pak, mana semua pohon juga dibumihanguskan.
    katanya buat nambah investasi di kota itu.
    ck-ck. padahal purwokerto kota dataran tinggi pak, malah mau banyakin begitu2an, kok malah niru hal yang buruk dari kota-kota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.